Di kejauhan, suara klakson mobil mengiris malam, lalu hilang tertelan gema. Lampu-lampu toko menutup satu per satu seperti mata yang tertutup. Reona berjalan lagi, kali ini lebih pelan, setiap langkahnya dipenuhi pertanyaan tentang apa yang akan datang setelah hujan reda. Apakah ada yang menunggu di ujung jalan? Atau hanya sepi yang terus mengikuti? Hujan tampak tak peduli pada pertanyaan-pertanyaan itu, terus turun, terus membersihkan, terus membuat wajah-wajah di kaca jendela menjadi samar.
There’s a natural, dewy beauty that only comes from being caught in a storm. The Duration: reona kirishima basah kehujanan022153 min
Finally, the familiar shape of her apartment building appeared through the gloom. She hurried up the steps, her wet clothes leaving a trail on the tiled floor of the lobby. When she finally reached her door and stepped inside, the sudden warmth of the hallway felt like a physical embrace. Di kejauhan, suara klakson mobil mengiris malam, lalu
"Hai, apa kamu sedih?" tanya Reona dengan ramah. Apakah ada yang menunggu di ujung jalan
022153 min — waktu yang terekam pada layar ponselnya, angka-angka yang sama muncul dan menghilang seperti detak napas. Reona menekan layar itu sekali lagi, seolah mencari arti yang tersembunyi. Di balik angka-angka dan hujan, ada perasaan hampa yang menekan dada, seperti lubang yang semakin lama semakin luas. Hujan bukan hanya basah yang membasahi kulitnya; ia membersihkan sesuatu dan pada saat yang sama mengingatkan bahwa ada yang hilang.